Penggemarnya berkesempatan bertanya langsung apa pun kepada Agnes untuk ”Kompas Kita” kali ini. ”Ada beberapa pertanyaan yang saya tidak jawab karena ada jawaban yang sudah mewakili,” kata Agnes.
Apakah masih punya mimpi go international yang benar-benar international? Karena ada kesan bahwa mimpi Anda berlebihan...
(Harry, Cimanggis)
Pastinya dooong. Mungkin bisa baca juga dari jawaban saya sebelumnya di atas. Mimpi berlebihan? Tidak ada mimpi yang berlebihan. Semua hal muncul dari mimpi. Mimpi kemudian menjadi visi, menjadi target, dan tujuan akhir. Contohnya, dulu saat lampu belum ada, bahkan api pun dianggap sebuah ”mukjizat”. Lantas, kenapa sekarang dianggap biasa saja?
Well, karena kita melihatnya ”terjadi” setiap hari. Logikanya (artinya), apa yang belum terbiasa terlihat/dilihat oleh kasatmata tidak berarti tidak mungkin atau berlebihan. Dulu sebelum ada pesawat terbang, bagaimana reaksi orang saat melihat pesawat terbang untuk pertama kalinya? Takjub. Seolah-olah ada burung besi terbang. Tapi sekarang? Tidak ada lagi yang menganggap pesawat terbang itu sebagai sesuatu yang luar biasa atau ”berlebihan”.
Mimpi Martin Luther King yang menuntut adanya penyetaraan hak antara kulit putih dan kulit hitam (lima puluh tahunan yang lalu) sempat dianggap muluk-muluk atau berlebihan. Tapi sekarang lihat buktinya? Barack Obama, seorang kulit hitam, bisa menjadi orang nomor satu di negara
Sekarang pun usaha saya sudah mulai terlihat hasilnya. Di Korea sendiri saya sudah mulai dikenal orang. Saya cukup terharu saat saya di sana, mereka sudah mengenal saya. Ada
Harus mulai bisa belajar dan percaya. Ingat, semuanya dimulai dari mimpi dan diri kita sendiri. ”Waktu” saya sudah habis? Memangnya saya sudah meninggal? Belum kan?
Kompas Jumat, 23 Oktober 2009